Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara Bagian 2.

5. Kerajaan Mataram Islam.
Raja pertamanya adalah Sutawijaya yang bergelar "Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama"
Kerajaan Mataram mencapai puncak kebesarannya pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645 M).
Hal ini merupakan cerminan dari kebesaran jiwa,keberanian, keuletan dan kecakapan serta kuatnya kepribadian Sultan Agung.
Ia juga sangat mementingkan urusan agama.
6. Kerajaan Banjar.
Kerajaan Banjar berdiri pada tahun 1526 M dengan Suriansyah (Raden Samudera) sebagai Sultan Pertama.
Kerajaan Banjar runtuh pada saat berahirnya Perang Banjar pada tahun 1905 M.
Raja terakhirnya adalah Sultan Muhammad Seman (1862-1905 M).
Beliau wafat saat melakukan pertempuran dengan Belanda di Pucuk Cahu.
7. Kerajaan Gowa-Tallo.
Kerajaan ini terletak di daerah Sulawesi Selatan.
pada tahun 1605 Sultan Alaudin (1591-1639 M) dari Gowa masuk Islam berkat dakwah Datuk Ri Bandang dan Sulaeman dari Minangkabau.
Sejak saat itu Gowa menjadi kerajaan Islam, yang segera diikuti oleh rakyatnya.Kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya pada abad 16 yang lebih dikenal dengan sebutan kerajaan kembar "Gowa-Tallo".
Dua kerajaan telahmenyatakan ikrar bersama, yang terkenal dengan bahasa "Rua Karaeng Na'se Ata"("Dua Raja tetapi satu rakyat").
Kerajaan Gowa-Tallo mencapai puncaknya terutama dibawah pemerintahan Sultan Malikussaid (1639-1653 M).
Pada tanggal 5 November 1653 Sultan Malikussaid wafat.
Beliau digantikan oleh putranya Sultan Hasanuddin.
Sultan Hasanuddin.
Cita-cita Sultan Hasanuddin untuk meguasai sepenuhnya jalur perdagangan Nusantara, mendorong perluasan kekuasaannya ke Kepulauan Nusa Tenggara, seperti Sumbawa dan sebagian Flores.
Keadaan seperti itu ditentang oleh Belanda yang memiliki daerah kekuasaan di Maluku.
Hubungan Batavia dengan Ambon terhalang oleh kekuasaan Kerajaan Makassar.
Pertentangan antara Makassar dan Belanda sering menimbulkan peperangan.
Keberanian Sultan Hasanuddin memimpin pasukan Kerajaan Makassar untuk memporak-porandakan pasukan Belanda di Maluku, mengakibatkan Belanda semakin terdesak.
Atas keberaniannya, Belanda memberi julukan kepada Sultan Hasanuddin dengan sebutan "Ayam Jantan dari Timur".
Dalam upaya menguasai Kerajaan Makassar, Belanda menjalin hubungan dengan Kerajaan Bone, dengan rajanya Aru Palaka.
Dengan bantuan Aru Palaka, pasukan Belanda berhasil mendesak Kerajaan Makassar dan menguasai ibukota kerajaan.
Akhirnya dilanjutkan dengan Perjanjian Bongaya (1667 M).
Mapasompa.
Setelah Sultan Hasanuddin turun tahta, ia digantikan oleh putranya yang bernama Mapasompa.
Sultan Hasanuddin sangat berharap agar Mapasompa dapat bekerja sama dengan Belanda, dengan tujuan agar Kerajaan Makassar masih dapat bertahan.
Ternyata Mapasompa jauh lebih keras dari ayahnya sehingga Belanda mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menghadapi Mapasompa.
Pasukan Mapasompa berhasil dihancurkan dan ia tidak diketahui nasibnya.
Dengan kemenangan itu, akhirnya Belanda berkuasa ata Kerajaan Makassar.

No comments:

Post a Comment