Perasaan yang Sunyi (2)
Tampak dari ufuk timur kulihat pancaran sinar keemasan yang masih sejuk dipandang mata. Cahayanya yang tak menyilaukan membuatku bisa melihat lingkar sempurna matahari, ia terlihat seperti bulan purnama di pagi hari. Udara pagi yang begitu sejuk tanpa polusi udara. Tak terasa sudah lebih dari dua tahun kujalani kehidupan di sekolah ini. Akhir semester sudah hampir mendekati hanya beberapa bulan lagi aku menunggu untuk kelulusanku dari sekolahku ini itupun jika kemungkinan lulus. Akhir semester ini aku sudah bisa kembali pada diriku yang dulu yang ceria riang dan tentu tak banyak bicara. Akhir-akhir ini kurasakan hatiku begitu jenuh jika memikirkannya. Sunyinya dan senyap bosan, jenuh memikirkannya. Ku ingat dulu ada dua orang cowok yang menyukaiku dalam diam, namun mereka menunjukkan cintanya dengan cara yang salah. Hal itu membuatku sangat terusik. Bukannya mereka membuatku suka pada mereka malah kelakuan mereka itu membuatku benci pada mereka. Mereka menunjukkan cintanya dengan caranya masing-masing. Yang satu menunjukkan rasa cintanya dengan terus mencari masalah denganku apapun itu asal ia bisa menarik perhatianku. Aku benar-benar bosan dan marah padanya yang selalu mencari ulah. Dia anak brandalan yang takkan pernah bisa mengisi kekosongan dihatiku. Dan yang satunya lagi suka membuat ulah dengan cara mengambil hal-hal yang aku suka. Ia mengambil tempat dudukku, penaku semua yang berkaitan dengan kesukaanku ia selalu mengusik kesenanganku. Hal yang benar-benar membuatku benci padanya adalah ia selalu saja memandangiku saat belajar setiap kali aku sekelompok dengannya. Ia selalu memilih duduk di depanku dari tempat yang lainnya, kelakuannya yang selalu saja memandangiku membuatku tidak nyaman karena papan tulisnya tepat di belakangnya dan tentu saja aku sering tanpa di sengaja betatap mata dengannya untuk beberapa saat lamanya, itu adalah hal yang sangat membuatku jengkel padanya. Akhirnya setelah kenaikan kelas aku tidak lagi berjumpa dengan mereka karena mereka sudah dikeluarkan dari sekolah karena telah membuat seorang guru masuk rumah sakit akibat perkelahian mereka menggunakan alat-alat sekolah. Guru itu terkena pukulan dari arah depan sapu dan dari arah belakangnya kursi yang dilemparkan. Mereka tak bermaksud membuat guru itu masuk rumah sakit hanya saja guru itu yang secara tiba-tiba datang mengerai mereka dengan berdiri di tengah-tengah mereka berdua pada saat mereka sedang saling lempar barang. Menurut keterangan teman-temanku mereka berkelahi karena memperebutkanku berlanjut saling hujat yang kemudian akhirnya mereka berkelahi. Sungguh berandal mereka berdua itu membuatku semakin jengkel sekali pada mereka. Di suasana kelas yang baru aku tak lagi ingin kejadian itu terulang kembali dan aku memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan siapapun karena aku tahu karakter orang-orang di tempat ini, jika aku terlalu dekat dengan mereka akan berlaku lancang padaku .
Subscribe to:
Comments (Atom)